Museum Sejarah RA Kartini

Memasuki bulan April, sekolah-sekolah, khususnya Sekolah Dasar akan gempita dengan perayaan Hari Kartini. Murid-murid disibukkan dengan kewajiban memakai baju adat, baju ragam profesi, lalu berpawai untuk menunjukkan bahwa kini semua profesi pekerjaan terbuka bagi lelaki dan perempuan. Semua berkat perjuangan Ibu Kartini. Aneka lomba digelar. Membuat puisi tentang Kartini misalnya, atau lomba menulis tentang emansipasi, karena Kartini adalah pahlawan emansipasi.

Memahami Kartini sebagai pahlawan emansipasi tak cukup dengan peringatan dan pawai. Mengunjungi dua museum khusus tentangnya -Museum RA Kartini di Jepara dan Rembang- menggugah ingatan tentang siapa dia, apa perannya dalam perjuangan bangsa. Jika pada Museum Kartini di Jepara banyak disimpan foto dan barang peninggalan Kartini sebelum menikah, maka museum di Rembang menyimpan foto-foto, dokumen, surat-surat, buku-buku, dan barang-barang peninggalan Kartini usai menikah. Dua museum ini menjadi kajian yang menarik tentang sosok Kartini yang kita kenal.

Hidupnya Singkat

Lahir di Jepara 21 April 1879 dari pasangan R.M.A.A. Sosroningrat dan M.A. Ngasirah, Kartini adalah anak no.5 dari 11. bersaudara (dengan dua ibu). Kartini anak yang cerdas, kecerdasannya diwariskan oleh keluarganya. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjadi Bupati pada usia 25 tahun. Sedang kakek dari keluarga ibunya adalah guru agama. Baik kakek maupun ayahnya amat mementingkan pendidikan buat anakanaknya. Karena anak Bupati Jepara. Dia diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School).

Di sekolah Kartini mulai belajar Bahasa Belanda. Dia juga bebas bergaul dengan teman-temannya, baik teman sekolah yang Orang Belanda maupun anak-anak di kampung. Ketika berumur 12 tahun Kartini mulai masuk masa pingitan, mengikuti adat Jawa keluarga ningrat kelas atas saat itu. Dia dilarang keluar rumah, tak boleh melanjutkan sekolah, dan mulai dididik menjadi Raden Ayu, sebutan bagi istri bangsawan tingkat atas. Untuk mengurai rasa jemu dan sepi, Kartini mulai belajar sendiri.

Ia membaca koran, buku-buku, dan majalah berbahasa Belanda. Sebagian bahan bacaan langganan ayahnya, sebagian kiriman dari para sahabat penanya, dan ada yang dari pemberian kakaknya, RM Sosrokartono yang bersekolah di Belanda. Bacaannya beragam, mulai koran De Locomotief terbitan Semarang, majalah De Hollandsche Lelie, atau buku-buku buku karya Max Havelaar, suratsurat cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht (kekuatan gaib) karya Louis Coperus, juga buku karya Van Eeden, Augusta De Witt, roman feminis karya Nyonya Goekoop de-jong Van Beek dan roman anti perang karangan Berta Van Stuttner, Sie Waffen Nieser (letakkan senjata), semua dilahapnya dengan rakus. Lapar ilmunya terpuaskan dengan membaca. Jika tak paham dengan bacaannya, maka akan diulanginya lagi membaca, ulang lagi. Dengan tuntunan ayah dan kakaknya Sosrokartono, Kartini pun mengembangkan bakat di bidang sastra. Bahkan dia mulai menulis untuk menyebarkan pemikirannya. Tulisan-tulisannya dimuat Hollandsche Lelie.

Selain membaca, intelektualitas Kartini terasah lewat diskusi yang dilakukannya dengan sahabat penanya melalui surat-menyurat. Surat menjadi ajang baginya untuk mengutarakan ide, pandangan akan bangsanya, juga penderitaannya. Kawan-kawan penanya pun beragam, seperti J.H. Abendanon (direktur depertemen pendidikan, agama dan kerajinan Hindia Belanda), Dr. Adriani (ahli bahasa dan pendeta), Annie Glasser (guru bahasa), Estelle Zeehandelaar (tokoh feminisme di Belanda), Ir. Van Kol (tokoh partai sosialis Belanda). Nellie Van Kol (istri Van Kol, penulis yang humanis dan progresif), Nyonya M.C.E. Ovink Soer (istri asisten residen Jepara yang dianggapnya sebagai ibu), dan masih beberapa lagi.

Melihat beragam profesi sahabat penanya, dapat dibayangkan bagaimana intelektualitas dan idealisme Kartini berkembang. Hubungan tarik ulur, saling mempengaruhi, lewat surat-menyurat ini akhirnya mempengaruhi Kartini dalam mengambil keputusan hidupnya. Bagaimana dia yang semula kukuh hendak hidup mandiri, tidak ingin menikah, menuntut untuk belajar secara formal, akhirnya menyerah saat diperistri Adipati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang menduda. Janji suaminya yang akan membiarkan dirinya membuka sekolah perempuan, dirasakannya lebih pragmatis ketimbang mengejar mimpinya untuk meneruskan sekolahnya di Betawi.

Apalagi saat itu umurnya sudah 24 tahun, sudah masuk perawan tua bagi Orang Jawa saat itu. Setahun kemudian, pada 17 September 1904, RA Kartini pun meninggal, 4 hari setelah melahirkan bayinya, Soesalit Djojoadhiningrat. Hidupnya begitu singkat, hanya 25 tahun.

Pemikiranya Melampaui Jaman

Sepeninggal Kartini, surat-surat yang dia kirimkan ke teman-temannya di Eropa dikumpulkan oleh JH Abendanon, dan dibukukan dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ pada 1911. Segera buku ini menarik perhatian pembaca dari Belanda karena pemikiran di dalamnya yang melampui jamannya. Buku ini mampu mengubah pandangan masyarakat Belanda akan perempuan Jawa. Buku ini juga dijadikan salah satu dasar penerapan Politik Etis atau balas budi pemerintah Kolonial Belanda di Hindia Belanda. Royalti dari buku ini kemudian digunakan untuk mendirikan Sekolah Kartini di Semarang (1913), Batavia (1914), Bogor (1914), Madiun (1914), Malang (1915), Cirebon (1916), dan Pekalongan (1916).

Buku ini juga menginspirasi tokoh kebangkitan nasional seperti WR Supratman, Sujatin, Douwes Dekker, dan masih banyak lagi. Bahkan kakak lelakinya, Sosrokartono, yang lama tinggal di Eropa, akhirnya pulang dan meneruskan cita-cita Kartini dengan membangun sekolah. Demikian juga dengan adiknya Kardinah dan Rukmini. Yang membuat Kartini menjadi besar bukan pada apa yang dihasilkannya secara fisik dalam hidup. Pencapaian nyata terbesarnya hanyalah sekolah perempuan yang harus ditukarnya dengan perkawinan, dimadu, dan melepas kesempatan untuk bersekolah guru di Batavia. Namun pemikirannya yang tertuang dalam suratsuratnya itu yang membuat banyak tokoh di Belanda maupun Eropa terpesona.

Kartini dengan detil menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa, khususnya perempuan, hidup di masa itu. Perempuan biasa bebas bergerak, tak perlu dipingit, namun tak dapat mengakses pendidikan. Sebaliknya perempuan ningrat seperti dirinya boleh bersekolah hingga umur 12-14 tahun, lalu dipingit. Perempuan juga tak boleh menentukan jodohnya sendiri. Semua sudah diatur oleh keluarga. Budaya Jawa yang patriarkat amat membatasi hak dan gerak hidup perempuan, dan menomorsatukan lelaki. Ini yang dikeluhkan Kartini. Dia ingin perempuan diberi akses yang sebesarbesarnya ke pendidikan. Dia juga ingin perempuan bebas menentukan nasibnya sendiri.

Karena itu salah satu citacita Kartini adalah mendirikan sekolah perempuan yang akan mencerdaskan perempuan, memberikan mereka kemandirian dalam menentukan hidup. Pemikirannya tentang agama juga universal. Baginya tak masalah agama apapun bagi manusia sepanjang dapat mencegah mereka dari kejahatan. Agama harus didasarkan pada kemanusiaan, jangan sampai agama justru dijadikan alasan manusia untuk berbuat dosa. Dalam menyikapi pemerintah kolonial Belanda, secara tidak langsung Kartini menyebut mereka hipokrit.

Walau berniat memajukan jajahannya lewat pendidikan, namun pemerintah kolonial Belanda melakukannya setengah-setengah karena takut jajahan yang cerdas akan melawan mereka. Begitu pula dalam menyikapi kehidupan Orang Jawa yang penuh adat istiadat. Tampak penjajah merendahkan segala penghormatan ala Orang Jawa namun mereka ingin dihormati dengan cara yang sama. Kartini adalah pejuang dalam pemikiran. Walau aksinya tak banyak karena dikungkung adat dan tatanan sosial, apa yang ada dalam tulisan-tulisannya dapat menjadi bom inspirasi bagi pembacanya. Bahkan jika kita mau menelaah dan membaca kembali ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, isi di dalamnya masih relevan untuk kehidupan saat ini. Pemikiran Kartini telah melampaui jamannya, melampaui umurnya sendiri.

Museum RA Kartini Memiliki Beragam Fasilitas

Selain menyimpan benda bersejarah milik RA Kartini, museum ini ternyata mempunyai beragam fasilitas yang membuat pengunjung nyaman. Fasilitas tersebut seperti kursi panjang untuk istirahat pengunjung yang lelah, kafetaria, taman kecil hingga genset diesel juga ada di tempat yang menyimpan banyak benda sejarah hidup RA Kartini.

Genset diesel yang dipergunakan merknya VGen berkapasitas 10 KVA. Genset ini terbilang bagus karena mempunyai perangkat khusus yang gunanya untuk meminimalisir suara bising saat genset digunakan. Harga genset vgen 10 kva di palembang berkisar 45 jutaan, jika anda tertarik bisa mencari info lengkap di internet.